semoga bacaan ini dapat bermanfaat bagi pengunjung blog ini

Kamis, 28 November 2013



SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

Pokok Bahasan            : Kesehatan gigi pada anak
Sub Pokok Bahasan    : Penyakit gigi pada anak
Tempat                        : SDN Panunggangan 2 Tangerang
Sasaran                        : anak kelas 4 SD
Waktu                         : 30 menit
Hari / Tanggal             :
Pembicara                    : Dyah Widya Ningrum
A.      Tujuan Umum
Setelah dilakukan penyuluhan selama 30 menitdiharapkan audiens/anak sekolah dapat mengerti dan memahami tentang penyakit gigi.
B.       Tujuan Khusus
1.    Menjelaskan pengertian penyakit gigi dengan benar.
2.    Menjelaskan faktor-faktor penyebab dari penyakit gigi.
3.    Memahami dan menjelaskan tanda dan gejala dari penyakit gigi.
4.    Memahami klasifikasi dari penyakit gigi.
5.    Menjelaskan dan mendemonstrasikan cara pencegahan terhadap penyakit gigi.
6.    Menjelaskan dan mendemonstrasikan cara perawatan terhadap penyakit gigi.

C.       Materi
1.      Pengertian penyakit gigi.
2.      Faktor penyebab dari penyakit gigi.
3.      Tanda dan gejala dari penyakit gigi.
4.      Klasifikasi dari penyakit gigi.
5.      Cara pencegahan terhadap penyakit gigi.
6.      Perawatan gigi

D.      Metode
1.      Ceramah
2.      Tanya jawab
3.      Demonstrasi.

E.   Media
1.      LCD dan laptop
2.      Leaflet.
3.      Phantom gigi.
4.      Alat menggosok gigi : sikat gigi, pasta gigi, dan gelas berisi air.
5.      Beberapa contoh makanan yang mengandung gula : permen, coklat, dll.

F.   Kegiatan
No
Tahap
Waktu (Menit)
Kegiatan



Penyuluh
Peserta
1
Perkenalan dan pembukaan
5 menit
  1. Mengucapkan salam
  2. Memperkenalkan diri
  3. Menjelaskan tujuan
  1. Menjawab salam
  2. Memperhatikan

2
Inti
15 menit
  1. Menjelaskan pengertian penyakit gigi
  2. Menjelaskan faktor penyebab penyakit gigi
  3. Menjelaskan tanda dan gejala penyakit gigi
  4. Menjelaskan klasifikasi penyakit gigi
  5. Menjelaskan cara pencegahan penyakit gigi
  6. Menjelaskan perawatan penyakit gigi

  1. Memperhatikan
  2. Diskusi dan bertanya




3
Penutup
10 menit
  1. Mengevaluasi perasaan peserta setelah penyuluhan
  2. Mengajukan beberapa pertanyaan
  3. Penutup dan salam
  1. Mengungkapkan perasaan setelah penyuluhan
  2. Menjawab pertanyaan
  3. Menjawab salam

G.      Sumber  Bacaan
BA, A. Udiyanto, dkk. 1978. Seri Anatomi Mulut. Jakarta : Mutiara
Besford, John. 1996. Mengenal Gigi Anda, Petunjuk Bagi Orang Tua, Edisi 2. Jakarta:Arcan
H.      Evaluasi
1.    Cara                             :  lisan
2.    Jenis pertanyaan          :  pertanyaan terbuka
3.    Waktu                         :  setelah dilakukan penyuluhan
4.    Soal                             :
1)        Apa yang dimaksud dengan penyakit gigi ?
2)        Sebutkan apa saja dari penyebab penyakit gigi ?
3)        Sebutkan tanda dan gejala dari penykit gigi ?
4)        Sebutkan dan jelaskan cara mencegah dari penyakit gigi ?
5)        Sebutkan cara merawat gigi agar tidak sakit gigi ?









I.         Lampiran Materi
PENYAKIT GIGI pada ANAK
a.         Pengertian
Penyakit gigi merupakan kelainan pertumbuhan dan perkembangan gigi. Hal ini tergantung pada saat terjadinya gangguan yang dihubungkan dengan tahap pertumbuhan dan perkembangan gigi yang sedang berlangsung.

b.      Penyebab
1.    Kuman yang ada di dalam gigi.
2.    Sisa makanan terutama karbohidrat seperti gula, roti atau makanan lemaklainnya yang lengket pada gigi
3.    Gigi dengan bentuk anatomi yang berlekuk kadang-kadang sulit untuk dibersihkan secara sempurna dapat mempercepat proses lubang gigi.
4.    Gigi bisa rusak bila dipakai untuk menggigit benda-benda yang keras (membuka tutup botol, dan sebagainya).

c.         Tanda dan Gejala
Penyakit ini biasanya ditandai dalam bentuk adanya lubang/keropos pada gigi, plak pada gigi, dan sakit pada gusi.

d.        Klasifikasi
1.      Gigi Berlubang (Caries)
Lubang gigi, disebut juga karies gigi, disebabkan karena infeksi bakteri. Jika tidak dirawat, lubang gigi akan semakin besar dan dalam hingga akhirnya infeksi mencapai persyarafan gigi. Lama kelamaan gigi menjadi mati. Selain itu infeksi gigi yang berlanjut ke jaringan lunak dapat menyebabkan terjadinya abses (seperti bisul berisi nanah).

2.      Gigi Tidak Rata
Gigi bisa menjadi tidak rata jika ada gigi susu yang tanggal secara dini sebelum waktunya, dan mengakibatkan gigi tetap/permanen yang menggantikannya kehilangan panduan untuk tumbuh. Akhirnya gigi tumbuh diluar posisi yang normal.

3.      Gigi Susu Tinggal Akar
Anak yang terbiasa minum susu botol, terutama sebagai pengantar tidur, umumnya mengalami karies yang disebut karies rampan. Ciri khasnya adalah hampir seluruh mahkota gigi depan rusak dan tinggal akarnya saja. Akar gigi rusak tersebut sebaiknya dicabut, sebab berpotensi menjadi tempat berkumpulnya kuman penyebab infeksi yang menyebabkan terjadinya  pembengkakan atau tonjolan seperti bisul di gusi (abses).

4.      Gigi Maju (Tonggos)
Anak dengan kebiasaan buruk tertentu seperti menghisap jari, bibir bawah atau dot lebih beresiko untuk memiliki gigi tonggos. Pada saat anak melakukan gerakan menghisap, jari akan memberi tekanan pada langit-langit mulut serta menyebabkan gigi terdorong ke depan. Namun tingkat keparahannya sangat bergantung pada durasi (berapa lama kebiasaan dilakukan setiap harinya), posisi jari, dan jangka waktunya apakah dilakukan secara terus menerus.

5.      Sakit Gusi
Tanda-tanda dari penyakit gusi :
1)      Rasa yang tidak enak pada gigi disertai bau mulut.
2)      Gusi yang memerah dan terlihat lunak sehingga mudah terjadi pendarahan.
3)      Kehilangan gigi bahkan gigi akan menjadi nyeri dan sensitif dan terasa sakit pada waktu mengunyah.
4)      Terjadinya penimbunan karang gigi yang berwarna coklat, dan mengeras pada permukaan gigi.

e.       Pencegahan
1.    Hindari makanan yang manis. Makanan yang manis seperti tebu, gula-gula, kuekering yang manis, teh atau kopi yang bergula dapat merusak gigi dengan cepat.
2.    Menyikat gigi dengan baik setiap hari. Segeralah menyikat gigi setelah makan sesuatu yang manis.
3.    Membubuhkan Fluoride di dalam air minum atau langsung pada gigi akan
4.    membantu mencegah lubang pada gigi.
5.    Jangan memberikan susu botol kepada bayi yang sudah besar. Mengisap susu dari botol akan membuat gigi bayi mengalami pembusukan.
6.    Hindari merokok.dan mengonsumsi minuman beralkohol karena dapat merusak gigi dan gusi.



f.       Perawatan gigi
1.    Memeriksa gigi secara rutin
Kunjungi dokter gigi setiap 6 bulan sekali walaupun Anda tidak merasakan sakit gigi. Hal ini diperlukan agar dokter dapat mendeteksi lubang kecil yang terjadi pada gigi dan dapat ditangani segera agar lubang tidak semakin besar..

2. Menyikat gigi secara teratur dan pada waktu yang tepat
Pagi hari setelah sarapan dan malam sebelum tidur adalah waktu yang tepat untuk menyikat gigi.

3.    Menyikat gigi dengan cara yang benar, seperti:
1)   Sebaiknya pilih sikat dengan bulu sikat yang soft, bulu sikat yang keras akan melukai gigi dan mengkikis gigi. Tak perlu penekanan yang berlebihan pada saat menyikat gigi.
2)   Seluruh permukaan gigi harus tersikat tanpa kecuali. Gerakkan sikat gigi dengan arah vertikal dengan sedikit memutar pada bagian permukaan gigi bagian depan.
3)   Menurut literatur yang ada dibutuhkan waktu kurang lebih 3 menit untuk membersihkan gigi dan menyikat semua bakteri yang merugikan.
4)   Selain gigi, lidahpun perlu disikat. Bisa menggunakan sikat gigi biasa atau produk sikat gigi yang memiliki bagian khusus untuk menyikat lidah.
5)   Anda bisa menggunakan benang gigi (dental floss) untuk membersihkan sela-sela gigi.

4.    Kumur setelah makan
Menyikat gigi tidak mungkin dilakukan sehabis kita makan, maka cara terbaik adalah berkumur-kumur agar sisa makanan tidak terus menempel dan mengurangi keadaan asam dalam gigi.

5.    Gunakan benang gigi untuk mengeluarkan sisa makanan
Sisa makanan yang tertinggal, hendaknya tidak dikeluarkan dengan menggunakan tusuk gigi. Penggunaan tusuk gigi dapat menyebabkan celah antar gigi semakin besar disamping dapat menyebabkan luka pada gusi.

6.    Pilih pasta gigi yang mengandung fluoride
Menggunakan pasta gigi yang mengandung fluorida. Zat ini merupakan salah satu bahan pembentuk email gigi. Adanya zat ini dapat mencegah pembusukan pada gigi.

7.    Makan makanan yang berserat
Mengkonsumsi sayuran atau buah terbukti dapat membuat gigi lebih kuat dan mencegah terjadinya gigi berlubang.

8.    Kurangi makanan yang mengandung gula dan tepung
Makanan jenis ini bila tertinggal di gigi dan adanya bakteri akan menyebabkan asam yang membuat gigi berlubang.


Selasa, 28 Mei 2013


SOP INJEKSI
PROSEDUR TINDAKAN PEMBERIAN SUNTIKAN ( INJEKSI )

A.   INJEKSI  INTRA VENA
o  Injeksi ini dilakukan dengan menyuntikkan obat kedalam pembuluh darah vena
o  Injeksi intravena diberikan jika diperlukan reaksi obat yang cepat
o  Sudut penyuntikan 15o-30 o kemudian sejajar dengan vena
o  Tempat penyuntikan pada vena yang terlebih dahulu dicari vena bagian distal kemudian ke bagian proksimal

Persiapan
Alat
a.     Spuit dengan jarum no.22-25
b.     Kapas alkohol
c.      Obat dari ampul atau vial
d.     Sarung tangan bersih
e.     Catatan pengobatan
f.       Tourniquet
g.     Bak injeksi
h.     Bengkok
i.       Perlak

 Pasien
a.     Sapa pasien dengan senyum ramah
b.     Jelaskan prosedur tindakan

Kerja
a.    Tutup tirai atau pintu
b.    Cuci tangan
c.    Ambil obat sesuai dosis
d.    Pakai sarung tangan
e.    Posisikan pasien nyaman dan rileks
f.     Tentukan vena yang akan ditusuk ( vena basilika dan vena chefalika), syarat vena: tidak bercabang, bukan bekas tusukan, kulit tidak berbulu.
g.    Pasang perlak di bawah area yang akan disuntik
h.    Bila vena sudah ditemukan ( misal vena basilika) atur lengan lurus dan pasang tourniquet sampai vena benar-benar dapat dilihat dan diraba
i.      Siapkan spuit yang sudah berisi obat, bila masih terdapat udara dalam spuit, maka udara harus dikeluarkan
j.      Bila klien terpasang veinflon, bersihkan port penyuntikan yang mengarah ke aliran iv yang utama dengan kapas alkohol.
k.    Buka aliran port i.v tersebut dan buka jarum spuit kemudian masukkan spuit tanpa jarum ke dalam veinflon dan suntikkan obat. 
l.      Tusukkan jarum ke dalam vena dengan posisi jarum sejajar dengan vena dengan sudut 15-30°
m.   Lakukan aspirasi dengan cara menarik plunger spuit. Bila darah sudah terhisap lepaskan tourniquet dan dorong obat pelan-pelan ke dalam vena
n.    Setelah obat masuk vena, segera tarik spuit, usap dengan kapas alkohol dengan sedikit menekan
o.    Kembalikan pasien pada posisi yang nyaman.
p.    Tutup dan buang spuit, ampul / vial ditempat yang telah tersedia (sampah medis untuk benda tajam)
q.    Observasi respon pasien terhadap penyuntikan
r.     Lepas sarung tangan dan cuci tangan
s.    Dokumentasikan prosedur (5T+1W: Tepat obat, tepat dosis, tepat pasien, tepat waktu, tepat cara pemberian dan waspada)
t.      Observasi efek samping obat (kemerahan, nyeri dan panas)

 Terminasi
a.    Berikan pujian pada klien
b.    Ucapkan terima kasih

 B.     INJEKSI  INTRA MUSCULAR
·         Injeksi ini dilakukan dengan menyuntikkan obat pada jaringan otot
·         Vaskularisasi pada otot lebih baik daripada subcutan sehingga absorbsi pada jaringan otot akan lebih cepat. Absorbsi obat cair pada IM akan terjadi sekitar 10-30 menit, sedangkan secara SC bisa mencapai hingga 30 menit.
·         Jarum yang digunakan adalah nomor 21-23, sedangkan untuk klien kurus digunakan ukuran jarum lebih kecil dan pendek.
·         Sudut penyuntikan 90o dengan melewati lapisan SC hingga masuk ke lapisan otot dalam
·         Injeksi IM lebih toleran terhadap jumlah volume lebih banyak daripada secara SC sehingga bisa disuntikkan obat 4 cc atau lebih
·         Jika memberikan obat yang dapat mengiritasi, gunakan teknik Z-track saat menyuntik yaitu dengan cara menghisapkan 0,5 ml udara ke dalam spuit untuk membentuk sumbatan udara. Tarik kulit dibawahnya dan jaringan subkutan 2,5 cm-3,5 cm ke arah lateral ke samping. Tahan bagian belakang kulit dan suntikan jarum dengan cepat.

Persiapan
Alat
a.  Spuit dengan jarum no.22-25
b.  Jarum ukuran diameter 20-30
c.   Kapas alkohol
d.  Obat dari ampul atau vial (0.5 mL)
e.  Sarung tangan bersih
f.    Catatan pengobatan
g.  Bak injeksi
h.  Bengkok
i.    Perlak

Pasien
a.    Sapa pasien dengan senyum ramah
b.    Jelaskan prosedur tindakan 

Kerja
1)     Tutup tirai atau pintu
2)     Cuci tanga
3)     Ambil obat sesuai dosis
4)     Pakai sarung tangan
5)     Kaji Area penyuntikan: tidak ada lesi, tidak terdapat infeksi, tidak terdapat penonjolan tulang, tidak terdapat saraf dan pembuluh darah
6)     Posisikan pasien nyaman dan rileks disesuaikan dengan area penyuntikan yang akan digunakan:
a.  Ventro gluteal: posisi tengkurap atau miring dengan lutut fleksi
b.  Vastus lateralis: posisi flat, supine dengan lutut sedikit fleksi
c.   Dorso gluteal: posisi prone dengan lutut fleksi
d.  Deltoid: posisi duduk atau berbaring dengan lengan fleksi, rileks atau diletakkan diatas abdomen
7)     Pasang perlak di bawah area yang akan disuntik
8)     Lakukan Z-track dengan tangan tidak dominan
9)     Bersihkan tempat penyuntikan dengan kapas alkohol dengan mengusap  secara sirkular arah keluar sekitar 5 cm
10)  Letakkan kapas alkohol pada tangan non dominan. Buka tutup spuit dan pegang spuit pada tangan dominan (antara ibu jari dan telunjuk)
11)  Injeksikan jarum dengan sudut  90° (vastus latralis jarum masuk dengan kedalaman 1,5-2,5 cm; ventro gluteal jarum masuk dengan kedalaman: 1,25- 2,5 cm; dorso gluteal jarum masuk dengan kedalaman: 1,25-3,75 cm; deltoid jarum masuk dengan kedalaman: 1,25-2,5 cm)
12)  Setelah jarum masuk ke dalam otot, pindahkan tangan non dominan kebawah spuit ( untuk memfiksasi agar posisi jarum tidak bergerak) dan tangan dominan pindah ke bagian pengokang spuit untuk siap mengaspirasi
13)  Aspirasi spuit untuk memastikan jarum tidak menusuk pembuluh darah, jika tidak terdapat darah injeksikan obat tersebut dengan kecepatan 10 detik/mL. Jika terdapat darah segera cabut spuit dan ganti pada posisi penyuntikan lainnya
14)  Tarik spuit, usap dengan kapas alkohol dengan sedikit menekan
15)  Kembalikan pasien pada posisi yang nyaman.
16)  Tutup dan buang spuit, ampul / vial ditempat yang telah tersedia (sampah medis untuk benda tajam)
17)  Observasi respon pasien terhadap penyuntikan
18)  Lepas sarung tangan masukkan kedalam larutan klorin dan cuci tangan
19)  Dokumentasikan prosedur (5T+1W: Tepat obat, tepat dosis, tepat pasien, tepat waktu, tepat cara pemberian dan waspada)
20)  Observasi efek samping obat (kemerahan, nyeri dan panas)

 Terminasi
a.    Berikan pujian atas kerjasama klien
b.    Ucapkan terima kasih

C.        INJEKSI  SUB CUTAN
·         Injeksi ini dilakukan dengan menyuntikkan obat pada jaringan di bawah kulit.
·         Pada sub cutan terdapat sedikit sirkulasi darah sehingga obat akan diabsorbsi secara lambat (tidak secspat jika diberikan secara IM)
·         Obat yang diberikan secara SC biasanya bersifat isotonic, noniritatif, larut dalam air, dan dapat ditoleransi hingga 0,5-1 cc
·         Contoh obat yang diberikan secara SC adalah: insulin, TT (tetanus toxoid), epineprin, obat-obat alergi dan heparin (dapat diabsorbsi dengan baik melalui SC dan IM)
·         Lokasi penyuntikan SC: deltoid, abdomen, paha, area scapula, ventral gluteal
·         Lokasi penyuntikan harus tidak terdapat lesi, tidak ada infeksi, bukan pada penonjolan tulang dan jaringan dibawahnya tidak terdapat syaraf dan pembuluh darah
·         Sudut penyuntikan 45o. Untuk klien yang gemuk bisa dengan sudut 90o. Pada klien yang kurus sebaiknya di abdomen bagian atas

Persiapan
Alat
a.     Spuit dengan jarum no.22-25
b.     Kapas alkohol
c.      Obat dari ampul atau vial (0.5 mL)
d.     Sarung tangan bersih
e.     Catatan pengobatan
f.       Bak injeksi
g.     Bengkok
h.     Perlak


Pasien
a.     Sapa pasien dengan senyum ramah
b.     Jelaskan prosedur tindakan

 Kerja
1)        Tutup tirai atau pintu
2)        Cuci tangan
3)        Ambil obat sesuai dosis
4)        Pilih tempat penyuntikan : deltoid, abdomen di tempat yang  tidak ada lesi, tidak terdapat infeksi, tidak terdapat penonjolan tulang, tidak terdapat saraf dan pembuluh darah
5)        Posisikan pasien nyaman dan rileks
6)        Pasang perlak di bawah area yang akan disuntik
7)        Pakai sarung tangan
8)        Bersihkan tempat penyuntikan dengan kapas alkohol dengan mengusap secara sirkular arah keluar sekitar 5 cm atau swab satu kali arah proksimal ke distal
9)        Letakkan kapas alkohol pada tangan non dominan. Buka tutup spuit dan pegang spuit pada tangan dominan ( antara ibu jari dan telunjuk)
10)     Dengan tangan non dominan cubit area deltoid
11)     Injeksikan obat dengan sudut 45-90°
12)     Aspirasi spuit untuk memastikan jarum tidak menusuk pembuluh darah, jika tidak terdapat darah injeksikan obat tersebut. Jika terdapat darah segera cabut spuit dan ganti pada posisi penyuntikan lainnya
13)     Tarik spuit, usap dengan kapas alkohol dengan sedikit menekan
14)     Kembalikan pasien pada posisi yang nyaman
15)     Tutup dan buang spuit, ampul / vial ditempat yang telah tersedia (sampah medis untuk benda tajam)
16)     Observasi respon pasien terhadap penyuntikan
17)     Lepas sarung tangan dan cuci tangan
18)     Dokumentasikan prosedur (5T+1W: Tepat obat, tepat dosis, tepat pasien, tepat waktu, tepat cara pemberian dan waspada)
19)     Observasi efek samping obat (kemerahan, nyeri dan panas)

 Terminasi
a.     Berikan pujian pada klien atas kerjasamanya
b.     Ucapkan terima kasih

D.    INJEKSI INTRA DERMAL / INTRA CUTAN
ü  Injeksi ini dilakukan dengan menyuntikkan obat dibawah permukaan kulit antebrachii  bagian dalam
ü  Digunakan untuk skin test atau tes tuberculin
ü  Intradermal memiliki sirkulasi darah yang minimal dan obat obat akan diabsorbsi secara perlahan (sangat lambat). Bermanfaat untuk skin tes karena beberapa klien akan mengalami reaksi anafilaktik jika obat masuk kedalam tubuh secara cepat
ü  Menggunakan jarum ukuran kecil (1/4-1/2 inci) atau jarum khusus tes tuberculin
ü  Sudut penyuntikan 5-15o
ü  Tempat penyuntikan: permukaan kulit yang terang, sedikit rambut, tidak ada lesi dan oedem
ü  ·Jumlah cairan yang disuntikkan 0,01-0,1 cc
ü  Contoh: 1 gram ampicillin diencerkan 5 cc aquades. Ambil larutan tersebut 0,1 cc kemudian diencerkan himgga 1 cc. Masukkan obat secara intradermal/intracutan 0,01-0,1 cc

Persiapan
Alat
a.    Spuit dengan jarum no.22-25
b.    Kapas alkohol
c.    Obat dari ampul atau vial (untuk usia <1 tahun:0.05mL, untuk usia >1 tahun:0.10 mL)
d.    Sarung tangan bersih
e.    Catatan pengobatan
f.     Pensil kulit
g.    Bak injeksi
h.    Bengkok
i.      Perlak

Pasien
a)     Sapa pasien dengan senyum ramah
b)     Jelaskan prosedur tindakan

Kerja
1)        Tutup tirai atau pintu
2)        Cuci tangan
3)        Ambil obat sesuai dosis
4)        Pilih tempat penyuntikan ( permukaan kulit yang terang, sedikit rambut, tidak ada lesi atau udem ) 3-4 jari dibawah ante kubital
5)        Posisikan pasien nyaman dengan siku ekstensi dan letakkan lengan diatas permukaan yang rata
6)        Pakai sarung tangan
7)        Bersihkan tempat penyuntikan dengan kapas alkohol dengan mengusap secara sirkular arah keluar sekitar 5 cm atau swab satu kali arah proksimal ke distal
8)        Letakkan kapas alkohol pada tangan non dominan. Buka tutup spuit dan pegang spuit pada tangan dominan (antara ibu jari dan telunjuk)
9)        Dengan tangan non dominan regangkan permukaan kulit
10)     Injeksikan obat dengan sudut 5-15°, jarum masuk ± 3 mm. Masuknya jarum bisa tampak dari permukaan kulit
11)     Hasil yang tepat adalah terdapat undulasi pada tempat penyuntikan
12)     Tarik spuit, usap dengan kapas alkohol tetapi tidak boleh ditekan
13)     Kembalikan pasien pada posisi yang nyaman, berikan tanda pada kulit dengan menggunakan pensil. Anjurkan klien untuk tidak membasuh tempat penyuntikan tersebut
14)     Tutup dan buang spuit, ampul / vial ditempat yang telah tersedia (sampah medis untuk benda tajam)
15)     Lepas sarung tangan dan cucu tangan
16)     Evaluasi : hasil tes positif jika terdapat kemerahan, bengkak Dokumentasikan prosedur (5T+1W: Tepat obat, tepat dosis, tepat pasien, tepat waktu, tepat cara pemberian dan waspada)
17)     Observasi efek samping obat (kemerahan, nyeri dan panas)

Terminasi
1.     Berikan pujian pada klien atas kerjasamanya
2.     Ucapkan terima kasih